Stunting yang sering disebut kerdil atau pendek merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak berusia dibawah lima tahun (balita) akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yaitu dari janin hingga anak berusia 23 bulan. Anak tergolong stunting apabila panjang atau tinggi badannya berada di bawah minus dua standard deviasi panjang atau tinggi anak seumurnya. Penyebab dari masalah stunting berhubungan dengan empat faktor yaitu akses terhadap pangan bergizi, praktek pemberian makanan bayi dan anak, akses terhadap pelayanan kesehatan serta akses terhadap kesehatan lingkungan yang meliputi tersedianya sarana air bersih dan sanitasi. Sedangkan penyebab tidak langsungnya dipengaruhi oleh berbagai faktor, meliputi pendapatan dan kesenjangan ekonomi, perdagangan, urbanisasi, globalisasi, sistem pangan, jaminan sosial, sistem kesehatan, pembangunan pertanian, dan pemberdayaan perempuan.
Dampak dari stunting dalam jangka pendek menyebabkan gagal tumbuh, hambatan perkembangan kognitif, motoric dan tidak optimalnya ukuran fisik tubuh serta gangguan metabolisme. Dalam jangka panjang stunting menyebabkan penurunan kemampuan pelajaran di usia sekolah yang akan berpengaruh pada produktivitas dimasa dewasa. Selain itu, kekurangan gizi juga menyebabkan gangguan pertumbuhan (pendek dan atau kurus) dan meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes melitus, hipertensi, jantung coroner dan stroke.
Stunting menjadi permasalahan pada pertumbuhan di indonesia. Sehingga program ini menjadi langkah awal untuk menjadikan masyarakat indonesia yang sehat dan cerdas dengan pemenuhan gizi pada anak sejak dini. Dalam melakukan pencegahan stunting sejak dini orang tua menjadi peran penting dalam bertanggungjawab untuk pemenuhan gizi sehari-hari agar mencukupi kebutuhan gizi anak.
Berdasarkan survei yang dilakukan masyarakat Desa Pangarengan memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Hal ini berdampak pada tingkat pemahaman masyarakat terkait kesehatan terutama stunting. Rendahnya pemahaman warga Desa Pangarengan merupakan permasalahan yang harus mendapatkan perhatian khusus. Kurangnya pemahaman tersebut menjadi faktor utama mengapa Desa Pangarengan termasuk desa yang beresiko terkena stunting. Edukasi merupakan salah satu cara untuk mengatasi kurangnya pemahaman tersebut, oleh karena itu kelompok 1 Desa Pangarengan merancang program seminar pada bidang kesehatan (stunting). Program tersebut bertujuan untuk memberikan edukasi kepada wraga Desa Pangarengan untuk mengenal istilah stunting beserta cara mencegah dan menaggulanginya.
Kegiatan mengenai seminar stunting ini perlu dilaksanakan karena kurangnya pemahaman masyarakat tentang stunting dan minimnya yang menyadari bahwa dampak dari anak-anak yang terkena atau terjangkit stunting sangatlah berpengaruh besar terhadap perkembangan inntelektualnya, sehingga dengan adanya seminar atau edukasi masyarakat dapat mencegah hal tersebut tidak terjadi secara berlarut-larut karena jika stunting tidak segera dilakukan pencegahan maka dapat menyebabkan masalah yang serius yaitu kematian. Dan hal selanjutnya yaitu untuk memberikan pemahaman calon pasangan suami isteri yang akan melangsungkan pernikahan mengenai dampak dari stunting dan upaya pencengahannya serta mengetahui apa saja yang harus dipersiapkan sebelum memutuskan untuk menikah dini.
Adapun tujuan diadakannya kegiatan seminar stunting “Stunting Bebas Generasi Cerdas” yaitu :
Mengetahui jumlah kasus stunting dan cara penanganan yang ada di Desa Pangarengan jika terjadi stunting.
Berikut yang terlibat dalam kegiatan seminar stunting “Stunting Bebas Generasi Cerdas” yaitu :
a. Stunting dapat memperlambat perkembangan otak anak
b. Keterbelakangan mental
c. Rendahnya kemampuan belajar
d. Risiko serangan penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi hingga obesitas
e. Di masa depan dapat berisiko pada menurunnya tingkat produktivitas sehingga dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan dan
memperbesar ketimpangan dimasyarakat.
Sebelum kegiatan seminar stunting dilaksanakan, ada kegiatan pengukuran status gizi dan konseling untuk warga Desa Pangarengan dilaksanakan selama 6 hari dari tanggal 14-19 Agustus 2023, dimulai dari pukul 08.00-15.00 WIB. Pengukuran status gizi dilakukan pada balita usia 0-59 bulan, anak-anak usia 10-11 tahun, remaja putri usia 16-28 tahun, ibu hamil, ibu menyusui dan lansia. Dalam pelaksaan kegiatan ini kami membagi 2 orang untuk setiap kategori pengukuran.
kegiatan seminar stunting “Stunting Bebas Generasi Cerdas” dilaksanakan pada selasa, 29 Agustus 2023 di kantor kepala Desa Pangarengan. kegiatan pertama yang dilakukan saat seminar adalah registrasi peserta, saat melakukan registrasi peserta diberikan snackbox dan air mineral oleh panitia KKN Tematik. pada jam 09.00 WIB acara seminar stunting dimulai kemudian pembacaan ayat suci Al Qur'an dan menyayikan lagu indonesia raya. acara selanjutnya sambutan-sambutan oleh ketua, dosen pembimbing lapangan dan kepala Desa Pangarengan. Masuk keacara ini yaitu penyampaian materi tentang “Strategi dalam menghadapi tantangan, pencegahan dan penanganan stunting” dan data-data stunting di Desa Pangarengan yang disampaikan oleh kepala puskesmas sukatani, penyampaian materi dalam bentuk PPT yang ditampilkan oleh narasumber dan dipandu oleh moderator. Setelah penyampaian materi selesai moderator memberikan waktu sesi tanya jawab kepada audiens, selama sesi tanya jawab audiens atau warga desa antusias dalam memberikan pertanyaan tentang stunting. Sampai pada akhir rangkaian acara yaitu penyerahan sertifikat dan souvenir sebagai kenang-kenangan kepada narasumber dan dilanjutkan sesi foto bersama.
Kondisi tubuh anak yang pendek seringkali dikatakan sebagai faktor keturunan (genetik) dari kedua orang tuanya, sehingga masyarakat banyak yang hanya menerima tanpa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. padahal seperti kita ketahui, genetik merupakan faktor determinan kesehatan yang paling kecil pengaruhnya bila dibandingkan dengan faktor perilaku, lingkungan (sosial, ekonomi, budaya, politik) dan pelayanan kesehatan. dengan kata lain, stunting merupakan masalah yang sebenarnya bisa dicegah.
stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas penduduk indonesia, juga ancaman terhadap kemampuan daya saing bangsa. Hal Ini dikarenakan anak stunted, bukan hanya terganggu pertumbuhan fisiknya (bertubuh kecil/kerdil) saja, melainkan juga terganggu perkembangan otaknya, yang mana tentu akan sangat mempengaruhi kemampuan dan prestasi di sekolah, produktivitas dan kreativitas di usia-usia produktif.
karena masalah stunting utamanya disebabkan oleh adanya pengaruh pola asuh, cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan, lingkungan dan ketahanan pangan. maka hal tersebut merupakan langkah yang tepat untuk diperbaiki bersama sesuai dengan kebijakan pemerintah. maka sudah selayaknya seluruh masyarakat turut serta untuk menjaga kesehatan diri dan lingkungan bukan karena sebatas patuh terhadap aturan dan kebijakan pemerintah, namun karena masyarakat sudah menyadari akan pentingnya kesehatan.
Linda Dwi Pratiwi