Mengaji merupakan salah satu aktivitas ibadah yang sangat melekat bagi masyarakat Indonesia. Selain sebagai bentuk aktivitas ibadah, mengaji menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Indonesia. Dari pedesaan hingga perkotaan, lantunan ayat-ayat suci alQurân selalu ada dan turut menghidupkan nila-nilai religius yang tertanam kuat dalam diri masyarakat Indonesia. Mushola dan masjid menjadi salah satu tempat yang sangat diminati masyarakat untuk mengembangkan budaya mengaji. Mengaji tak ubahnya seperti media pendidikan keagamaan bagi semua kalangan masyarakat. Seiring dengan perkembangan zaman dan derasnya arus globalisasi, terjadilah pergeseran pada kebiasaan mengaji. Dahulu, ketika menjelang adzan Magrib berkumandang, orang tua selalu mewanti-wanti anak-anaknya untuk segera masuk ke rumah, membersihkan badan, mengambil air wudu dan menyuruh anak-anaknya untuk bergegas pergi ke masjid atau mushola untuk mengaji. Kebiasaan mengaji pada Magrib ini terlihat mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Anak-anak semakin sulit untuk berhenti bermain, menonton televisi apalagi untuk pergi mengaji, terutama untuk anak-anak yang sudah tidak lagi duduk di bangku sekolah dasar.
Mengaji merupakan kegiatan yang harus dijalankan terutama bagi umat muslim. Karena Allah SWT telah berfirman untuk setiap makhluknya menuntut ilmu hingga akhir hayatnya. Melihat keadaan yang di RW 08 Kelurahan Neglasari dengan banyaknya Tempat Pendidikan Al Quran (TPA) dan majelis ta'lim, permasalahan yang di sampaikan oleh pengajar adalah kurangnya tenaga pengajar. Sehingga Mahasiswa KKN kelurahan Neglasari berinisiatif untuk membantu mengajar membaca Al Quran dan berbagi ilmu tentang keagamaan.
Rumah Mengaji merypakan salah satu program kerja dari mahasisawa Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kelurahan Neglasari yang berkolaborasi dengan TPA (tempat pembelajaran Al Qur’an) yang ada di wilayah tersebut. Rumah mengaji dilaksanakan setiap hari kecuali hari Kamis dari pukul 18.30-20.00 WI. Untuk waktu pelaksanaannya sesuai dengan banyaknya anak yang datang di waktu itu.
Pada kegiatan ini mahasiswa KKN memilih 3 tempat untuk melaksanakan Rumah Mengaji, dikarenakan sumber daya manusia hanya cukup untuk mengelola 3 tempat tersebut. 3 tempat tersebut adalah sebagai berikut :
Kegiatan ini diikuti oleh anak-anak yang berada disekitar wilayah ini. Anak-anak sangat antusias dengan kegiatan ini dibuktikan dengan setelah mengikuti rumah mengajar anak-anak tetap mengikuti dan lebih banyak yang datang di Rumah Mengaji.
Kegiatan dimulai dengan membaca runtutan doa yang memang sudah biasa di lafalkan oleh anak-anak. Mahasiswa KKN menjadi pembimbing sekaligus pengawas dari kegiatan ini. Setelah doa, dilanjutkan dengan membaca Al Quran atau Iqro satu per satu yang di bimbing oleh mahasiswa KKN. Anak-anak berbaris mengikuti arahan dari pembimbingnya. Dikarenakan banyaknya anak yang datang sehingga kondisi pada kegiatan Rumah Mengaji kurang kondusif, akan tetapi Mahasiswa KKN mencoba untuk meminimalisir itu dengan memberikan perhatian atau dengan memberikan teguran kepada anak-anak yang memang perlu untuk ditertibkan. Setelah selesai membaca Al Quran atau Iqro, mahasiswa KKN memberikan materi tentang dasar-dasar agama islam. Materi yang disampaikan sebagai berikut :
Setiap harinya materi yang diberikan akan berbeda, akan tetapi sebelum masuk ke materi baru mahasiswa kkn akan mengulas sedikit materi sebelumnya agar anal-anak tidak lupa dan mau membaca catatannya kembali. Pemateri juga berbeda untuk setiap harinya, namun didampingi juga oleh mahasiswa yang memang dibidang keagamaan.
Kegiatan Rumah Mengaji ini terdapat kendala seperti sarana dan prasarana. Banyak Iqro atau Al Quran yang sudah rusak atau sobek, sehingga ada halaman yang hilang. Meja untuk membacapun jumlahnya tidak sebanding dengan jumlah anak-anak yang hadir. Sehingga Mahasiswa KKN melakukan open donasi untuk memberikan Al Quran, Iqro, dan meja untuk mengaji. Dan pada perpisahan kegiatan ini, Mahasiswa KKN menyerahkan kepada RW 71 buah Al Quran, 90 buah Iqro, 4 meja panjang, dan buku bacaan lain seperti jus ama, untuk dibagikan kepada TPA yang ada di sekitar RW 08.








Setelah pelaksanaan dari Rumah Mengaji, dapat diketahui bahwa tujuan diadakannya kegiatan ini sudah tercapai. Namun ada beberapa hal yang harus diperbaiki dan juga mendapatkan saran dari aparat setempat untuk memperbanyak titik atau lokasi mahasiswa KKN dalam pelaksanaan Rumah Mengaji. Hal ini dikarenakan TPA di sekitar wilayah RW 08 tidak hanya 3 titik, dan semuanya mengeluhkan hal yang sama yaitu kurangnya tenaga pengajar. Kekurangan yang ada di setiap TPA mengenai sarana dan prasarana sedikitnya sudah dibantu oleh mahasiswa KKN.
Shifa Aulia