Kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (calistung) pada usia dini akan mempengaruhi mutu pendidikan pada tingkat pendidikan dasar. Menurut Noor (2006) kemampuan membaca, menulis, dan berhitung merupakan dasar untuk menumbuhkan kemampuan berpikir logis, sistematis, dan keterampilan merefleksikan pikiran dan ide siswa yang akan memberikan kemampuan siswa dalam menguasai bidang studi lainnya. Mengingat pentingnya berhitung dan kenyataan bahwa sampai sekarang masih banyak anak yang mengalami kesulitan dalam belajar berhitung, maka sebaiknya belajar berhitung dilakukan sejak anak usia dini (Suwarsono, 1998).
calistung adalah istilah atau singkatan dari rangkaian kata membaca, menulis, dan berhitung. Sementara itu, calistung juga bisa dianggap sebagai metode belajar yang biasa diajarkan orang tua kepada buah hati berusia 4-7 tahun. Metode ini dianggap berperan penting karena sejumlah manfaatnya.
Pada anak-anak, membaca dapat dianggap sekadar membunyikan huruf-huruf yang terangkai atau hurufiah, menulis berarti menuliskan huruf-huruf yang terangkai, dan berhitung berarti sekadar menambahkan, mengalikan, dana membagianya. Namun, bagi orang dewasa, calistung memiliki makna yang jauh lebih kompleks.
Membaca bagi orang dewasa tidak sekadar membunyikan huruf-huruf, tetapi memahami dan menangkap inti dari gagasan artikel, buku, situasi, keadaan diri, orang lain, fenomena alam, sosial, dan masih banyak lagi dari dalam kehidupan.
Menulis bukan sekadar merangkai huruf dengan huruf, melainkan menulis suatu gagasan yang bermanfaat untuk diri dan sesama. Kemudian, berhitung tidak hanya berkaitan dengan angka, tetapi juga menghitung untung rugi dari suatu sikap, perkataan, atau perbuatan yang diambil. Berhitung juga berarti memperhitungkan manfaat atau baik buruknya sikap dan perbuatan diri untuk orang lain.
Calistung perlu dilakukan agar si anak bisa ikut menikmati proses membangun kemampuan, sehingga manfaat baik dari pembelajaran tercapai. Kemampuan calistung bukan menjadi ukuran sebenarnya bagi perkembangan anak. Karena calistung ini hanya sebagian dari sekian banyak kemampuan yang harus dikembangkan pada anak. Dalam hubungannya dengan kemampuan membaca, anak tak sekedar bisa menyuarakan teks yang tertulis, namun juga bisa memahami maksud dari kata yang dibaca tersebut serta kaitannya dengan pemaknaan pada kalimat yang tersusun. Tentu untuk bisa mencapai tahapan tersebut, diperlukan proses literasi secara bertahap. Pun dengan kemampuan berhitung. Di sini, anak tidak diharapkan hafal angka dan penjumlahan, namun lebih pada kemampuan memahami simbol angka dan konsep penjumlahan dasar.
Kegiatan dilaksanakan pada hari Senin, 14 Agustus 2023 dan berjalan selama satu bulan yang mana pada kegiatan tersebut dihadiri oleh beberapa mahasiswa yang sudah ditentukan jadwalnya dan para anak-anak warga sekitar. Kegiatan di awali dengan membaca doa sebelum memulai belajar, setelahnya para mahasiswa KKN akan mengelompokkan anak-anak berdasarkan tingkatan kelasnya agar pembelajaran terlaksana secara merata dan sesuai dengan kemampuan masing-masing anak.
Pengelompokkan Pembelajaran dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok yakni, kelompok pertama yaitu pengenalan abjad dan pengejaan kata-kata, kelompok kedua yaitu pengenalan pertambahan dan pengurangan dasar, dan kelompok yang ketiga yaitu pengenalan perkalian dan pembagian.
Dalam proses kegiatan, anak-anak yang bisa menjawab pertanyaan dari kaka-kaka mahasiswa dengan benar lebih dulu akan diberikan reward oleh para mahasiswa KKN sebagai motivasi untuk anak-anak yang lainnya agar bisa lebih semangat dan giat lagi dalam proses pembelajaran calistung. selain belajar calistung, para mahasiswa KKN juga selalu mengajarkan kepada anak-anak tentang budi pekerti dan sopan santun dengan harapan anak-anak akan menjadi pribadi yang berakhlakul karim/ah
selanjutnya sebelum kegiatan les calistung berakhir anak-anak akan diminta untuk duduk dengan rapih dan membaca doa sesudah belajar sebelum pulang.




Dalam kegiatan ini, penulis bersama rekan-rekan KKN Kampung Melayu Barat yang ikut kegiatan mengajar juga saling berbagi pengalaman. Hal ini karena latar belakang jurusan yang berbeda-beda. Selain itu, sikap masyarakat sekitar beserta guru-guru yang sangat membantu kami dalam membimbing dan saling membantu, membuat penulis sangat temotivasi dan semangat dalam setiap program yang terlaksana. Sehingga, hasil yang didapat berjalan sesuai dengan harapan yang diinginkan.
Irfan Nur Ikhsan