Stunting merupakan salah satu tantangan dan masalah gizi secara global yang sedang dihadapi oleh masyarakat di dunia. Ambitious World Health Assembly menargetkan penurunan 40% angka Stunting di seluruh dunia pada tahun 2025. Global Nutritional Report 2018 melaporkan bahwa terdapat sekitar 150,8 juta (22,2%) balita Stunting yang menjadi salah satu faktor terhambatnya pengembangan manusia di dunia (United Nation, 2018). Menurut hasil Status Gizi Indonesia (SSGI) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), prevalensi balita yang mengalami stunting di indonesia sebanyak 24,4% pada tahun 2021.
Dengan demikian, hampir seperempat balita di dalam negeri yang mengalami stunting pada tahun lalu. Pemerintah pun menargekan prevalensi stunting di Indonesia turun menjadi dibawah 14% pada tahun 2024. Untuk mencapai target tersebut, Kementrian Kesehatan akan melakukan intervensi spesifik dengan mengatasi penyebab lansung terjadi stunting, seperti pemberian asupan makanan, pencegahan interfensi penyakit menular, hingga manajemen terpadu balita sakit (Kemenkes, 2021).
Penanganan stunting merupakan prioritas pembangunan nasional melalui RencanaAksi Nasional Gizi dan Ketahanan Pangan. Sesuai dengan UU tentang Desa, maka terhadapupaya penanganan stunting yang sudah menjadi prioritas nasional sangat memungkinkanbagi Desa untuk menyusun kegiatan-kegiatan yang relevan dan yang bersifat skala desamelalui APBDes.
Kegiatan untuk mengatasi stunting harus dilakukan karena stunting adalah masalah serius dengan dampak yang luas dan jangka panjang, yang tidak hanya memengaruhi kesejahteraan anak-anak secara individual, tetapi juga berdampak pada masyarakat dan ekonomi secara keseluruhan. Berikut beberapa alasan mengapa kegiatan atasi stunting perlu dilakukan: Pengaruh Buruk pada Kesehatan dan Pertumbuhan Anak, Gangguan Perkembangan Kognitif,dan Keterkaitan dengan Masalah Gizi Lainnya.
Salah satu fokus pemerintah saat ini adalah pencegahan stunting. Upaya ini bertujuan agar anak-anak Indonesia dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan maksimal, dengan disertai kemampuan emosional, sosial, dan fisik yang siap untuk belajar, serta mampu berinovasi dan berkompetisi di tingkat global.
Kegiatan beras (bersama atasi stunting) dilakukan di aula kelurahan pakojan bersama mahasiswa KKN, Kader posyandu , anak anak , dan masyarakat sekitar yang menghadiri acara tersebut. Kegiatan beras ini bertujuan untuk menyuluhkan bagaimana cara atasi stunting pada anak agar masyarakat sekitar bisa mencegah sejak dini. Kegiatan tersebut dilakukan agar memperkecil angka kasus stunting pada anak di kota tangerang sehingga mencapai 0%.



Demikian laporan kegiatan ini kami sampaikan, besar harapan kami dengan suksesnya kegiatan-kegiatan kami dalam melaksanakan program yang ada kepada masyarakat kelurahan Pakojan. Semua Materi dan metoda sosialisasi yang dipakai disesuaikan dengan usia dan tingkat pendidikan peserta tersebut. Diharapkan dengan adanya program ini akan menambah pengetahuan masyarakat kita tentang pentingnya gizi seimbang serta bisa meningkatkan .
Wanda Novika Putri