Stunting merupakan indikator kekurangan gizi kronis akibat ketidakcukupan asupan makanan dalam waktu yang lama, kualitas pangan yang buruk, meningkatnya morbiditas serta terjadinya peningkatan tinggi badan yang tidak sesuai dengan umurnya (TB/U) (Ernawati, Rosmalina and Permanasari, 2013). Pada umumnya, masalah pertumbuhan linier pada balita sering diabaikan karena masih dianggap normal asalkan berat badan anak telah memenuhi standar. Menurut beberapa penelitian, stunting berkaitan dengan peningkatan risiko kesakitan dan kematian serta terhambatnya pertumbuhan kemampuan motorik dan mental (Priyono, Sulistiyani and Ratnawati, 2015).
Pembangunan kesehatan dalam periode tahun 2015-2019 difokuskan pada empat program prioritas yaitu penurunan angka kematian ibu dan bayi, penurunan prevalensi balita (stunting), pengendalian penyakit menular dan pengendalian penyakit tidak menular. Salah satu prioritas pembangunan nasional yang tercantum di dalam sasaran pokok Rencana Pembangunan jangka Menengah Tahun 2015-2019 yaitu upaya peningkatan status gizi masyarakat termasuk penurunan prevalensi balita stunting (Kemenkes, 2016)
Di Indonesia, berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2013, persentase status gizi balita stunting adalah 37,2%. Prevalensi stunting tidak menunjukkan penurunan/ perbaikan dibandingkan tahun 2010 (35%) dan tahun 2007 (36,8%). Menurut penelitian yang dilakukan oleh (Losong, 2017) di Puskesmas Tambak Wedi, hasil operasi timbang tahunan Puskesmas Tambak Wedi tahun 2015, terdapat 335 balita yang terkena stunting atau sebesar 31,3% dari 1067 balita di wilayah Kerja Puskesmas Tambak Wedi. Pada tahun 2016, prevalensi balita stunting meningkat menjadi 33%, balita dengan TB/U ≤ -2SD yang dikategorikan stunting (pendek dan sangat pendek) Menurut UNICEF, stunting berdampak pada tingkat kecerdasan, kerentanan terhadap penyakit, menurunnya produktifitas dan kemudian menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan dan ketimpangan.[1]
Mengapa kegiatan tersebut perlu dilaksanakan
meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang Stunting dan penyebab gejalanya, meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang resiko tinggi dan pengenalan tanda kelahiran pada kehamilan.
Kegiatan ini diawali dengan pengumpulan data, pengukuran berat badan, panjang badan bagi bayi/balita dan pengukuran berat badan, tinggi badan dan lingkar lengan atas pada ibu hamil yang dilaksanakan pada tanggal 20 September 2023 di Taman Tematik Desa Bojong Renged Selain mendata dan melakukan pengukuran status gizi, dilakukan pula edukasi tentang stunting.
Edukasi ini dilakukan untuk memberikan informasi kepada masyarakat setempat mengenai stunting yang membahas tentang apa itu stunting, ciri-ciri stunting, proses terjadinya stunting, faktor penyebab stunting, dampak stunting dan bagaimana cara pencegahan stunting. Selain itu penyuluhan ini juga dilakukan untuk menambah pengetahuan kepada masyarakat setempat mengenai stunting, dimana stunting itu sendiri tidak hanya berhubungan dengan masalah tinggi badan yang tidak sesuai dengan umur anak.
Stunting itu sendiri dapat disebabkan oleh asupan makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Selain faktor lingkungan juga dapat disebabkan oleh faktor genetik dan hormonal akan tetapi sebagian besar penyebab stunting disebabkan oleh malnutrisi sehingga untuk pencegahan stunting dilakukan juga penyuluhan tentang MPASI.


Kuliah kerja Nyata (KKN) Tematik adalah kuliah kerja sinergi pemberdayaan masyarakat dimana KKN ini adalah suatu kuliah kerja dengan misi mengembangkan Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya Dharma pengabdian pada masyarakat. Program inti berupa pemberdayaan masyarakat siaga covid 19 dalam Gerakan masyarakat sadar stunting (gemasting) di masa pandemi dengan harapan terjadinya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap masalah stunting dan penanggulangannya sehingga tercipta kondisi lingkungan yang mendukung program sebagai pencegahan stunting.
Aliya Lestari