Pertahanan dan ketahanan kesehatan masyarakat bukan semata-mata tanggung jawab kuratif fasilitas medis (puskesmas/klinik), melainkan harus dimulai dari inisiatif preventif dan promotif di zona domestik terbawah: keluarga. Optimalisasi pekarangan rumah melalui budidaya Tanaman Obat Keluarga (TOGA) merupakan jembatan emas menuju kesejahteraan fisiologis dan finansial keluarga. Obat tradisional dari rimpang-rimpangan (fitofarmaka) terbukti dapat meningkatkan imunitas, menyediakan alternatif swamedikasi (pengobatan mandiri) atas gejala penyakit ringan seperti influenza atau dispepsia, tanpa membebani masyarakat dengan harga obat kimia sintetik yang tinggi. Formulasi jamu ini bahkan didukung oleh literatur sah Kemenkes RI melalui panduan Formularium Ramuan Obat Tradisional Indonesia (FROTI).
Analisis demografi sosial di wilayah Kelurahan Sukamulya, Kecamatan Cikupa mengidentifikasi adanya disparitas. Ibu-ibu rumah tangga yang bernaung dalam Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) mendominasi denyut aktivitas warga. Namun, pekarangan di area urban ini seringkali tak termanfaatkan akibat pesimisme terhadap terbatasnya luasan lahan. Banyak petak tanah dibiarkan terabaikan atau sekadar disesaki pot tanaman hias nirkegunaan gizi. Selain itu, jikapun terdapat tanaman obat liar, pengetahuan terkait khasiat (farmakognosi), takaran, maupun cara pengawetan panen (teknologi pasca-panen) warga masih teramat dangkal.
Menjawab anomali ini, mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Tangerang mengajukan proposal intervensi vokasional dan ekologis. Program tidak sekadar dimaknai dengan ritual penanaman belaka, melainkan dirajut menjadi pemberdayaan sirkuler: mulai dari pembekalan teori khasiat, penyerahan logistik media tanam hemat ruang (polybag / taman vertikal), penanaman kolaboratif, pengenalan QR Code literasi botani, hingga bermuara pada lokakarya pengolahan serbuk rimpang menjadi jamu instan higienis.
Intrik utama di lapangan adalah rendahnya pemahaman dosis dan identifikasi taksonomi herbal, dibarengi kelumpuhan kemauan bertani akibat persepsi lahan sempit. Apabila hasil panen TOGA segar (rimpang atau dedaunan) berlimpah namun warga buta teknologi pengeringan, komoditas ini rentan mengalami pembusukan massal dan menguap nirguna.
Sasaran yang paling dirugikan adalah kelompok ibu-ibu PKK yang sesungguhnya memegang kuasa anggaran domestik rumah tangga. Jika permasalahan lahan ini terus diabaikan, warga Sukamulya akan terus bergantung pada sistem medis berbayar yang memberatkan kantong untuk sekadar menumpas batuk atau masuk angin. Kontribusi mahasiswa KKN terkalibrasi tepat: mendemonstrasikan sistem vertical garden yang menyiasati keterbatasan ruang menggunakan material limbah botol, menuntun pengoperasian pasca-panen, dan menggugah literasi digital ibu-ibu dalam membaca informasi khasiat resep via pemindaian kamera.
Tujuan Umum Merevitalisasi kemandirian swamedikasi keluarga dan menghijaukan tata ruang ekologi permukiman Kelurahan Sukamulya melalui pembudidayaan dan penciptaan nilai tambah (pasca-panen) atas komoditas Tanaman Obat Keluarga.
Tujuan Khusus
A. Dampak bagi Masyarakat (Kelompok Ibu PKK)
Secara kognitif, partisipan diproyeksikan mengalami asimilasi pengetahuan, mengetahui komparasi khasiat jahe merah, temulawak, atau kumis kucing dengan presisi pengobatan19. Dari kacamata kecakapan vokasi, warga kini tidak kebingungan menyelamatkan masa guna rimpang, karena menguasai teknis pengeringan, perajangan, dan kristalisasi menjadi serbuk jamu yang praktis. Pengolahan ini bermuara pada kemungkinan terbukanya embrio kewirausahaan (home industry) minuman herbal di tingkat rukun tetangga. Literasi teknologi mereka turut terpicu melalui adaptasi scanning kode pelacak digital.
B. Dampak bagi Lingkungan
Metode adaptasi instalasi vertikal tersusun dan pemanfaatan pupuk kompos menghasilkan perbaikan ruang terbuka. Pekarangan atau dinding gersang termanifestasi menjadi Apotek Hidup yang rimbun, menambah nilai estetika, menyumbang oksigen, sekaligus mengurangi penumpukan sampah botol plastik karena dikonversi menjadi pot suspensi vertikal.
C. Dampak Jangka Panjang
Berdirinya Kebun Percontohan berplang QR Code diharapkan berfungsi sebagai laboratorium alam permanen bagi tetangga atau pejalan kaki yang singgah. Jika pembinaan pasca-panen sukses, produk jamu warga menanti peluang legalisasi melalui sertifikasi Produk Industri Rumah Tangga (PIRT) demi meraih kepercayaan pasar ritel eksternal.
Pada Tanggal 2 Agustus 2026, 135 Bibit, 8 yang berinteraksi lapangan.
Tahap 1 – Persiapan
Mekanisme pengabdian ditempa lewat metode pemahaman partisipatif (Participatory Rural Appraisal/PRA). Mahasiswa KKN menghimpun forum komunikasi bersama PKK guna mensurvei pekarangan strategis. Tim mengakuisisi logistik kunci: bibit TOGA varietas unggul, nutrisi pupuk, media tanam, kemasan botol olahan, dan mendesain portal digital berbasis QR Code yang memuat takaran ramuan.
Tahap 2 – Pelaksanaan
Kegiatan implementasi untuk mendukung PHBS diretas lewat penyuluhan esensi khasiat TOGA merujuk panduan Kemenkes/BPOM. Menyusul penyuluhan, tim mendistribusikan subsidi paket polybag serta material tanam, dan memandu instalasi kerangka kebun percontohan.
Tahap 3 – Interaksi dengan Peserta
Mahasiswa mendampingi para partisipan dalam demonstration plot (demplot). Peserta menakar kombinasi tanah dan kompos, menyemai rimpang, serta menyusun formasi taman susun. Di fase berikutnya yang amat krusial, dilaksanakan simulasi pasca-panen. Instruktur mahasiswa memperagakan pembersihan, penumbukan, perebusan dengan agregasi gula, hingga pengkristalan sari temulawak/jahe menjadi serbuk serbaguna higienis. Seluruh ibu-ibu diarahkan mencoba mengaduk ramuan agar memorinya kuat. Plang kayu dengan stiker QR Code ditancapkan pada titik kebun.
Tahap 4 – Hasil Kegiatan
Puncak kapabilitas mencetak aset kebun TOGA terintegrasi teknologi, penyerahan bibit pekarangan, serta sampel minuman jamu/serbuk herbal 135 Bibit.
Tahap 5 – Evaluasi
Efektivitas bimbingan dirancang untuk dikuantifikasi melalui survei kuesioner komprehensif, guna memastikan kelompok PKK betul-betul sanggup meniru pengolahan swamedikasi 90% Hidup.
Tahap 6 – Tindak Lanjut Perawatan dan ritme penyiraman aset kebun percontohan diserahterimakan pada mekanisme komunal penjadwalan (piket) PKK Sukamulya.

Mengecek kondidsi kampung PHBS, sekaligus berbincang bersama ketua tani.

Pengambilan sekaligus Penyerahan 100 Bibit bersama Kementrian Pertanian Pangan dan Mahasiswa Muhammadiyah Tangerang.

Serah terima 80 Bibit Toga dan sayur-sayuran bersama pa RT 043.

Melakukan penanaman bersama tim.
Kesimpulan
Pemberdayaan masyarakat melalui kultivasi TOGA memproyeksikan intervensi tata laksana holistik yang menembus kelemahan agrikultur urban. Mahasiswa KKN tidak terperosok pada kelemahan pengadaan program konvensional yang cuma membagikan bibit lalu meninggalkannya, melainkan menuntun peserta dari tata cara penanaman, siasat taman vertikal penyelamat lahan sempit, hingga menjejali PKK dengan skill hilirisasi ekonomi berupa penciptaan serbuk jamu yang kebal pembusukan. Pematrian inovasi edukasi silang dengan memancangkan QR Code botani menyempurnakan kebun percontohan tersebut menjadi ruang literasi alam yang tanggap zaman.
Saran
Bagi pergerakan Ibu-Ibu PKK, konsistensi dalam menggilir pemeliharaan kebun percontohan mutlak dilakukan agar aset ini tidak mengering saat terjadi transisi musim. Eksperimentasi rasa jamu (misalnya ramuan penambah nafsu makan untuk menanggulangi tengkes/stunting balita) harus terus dieksplorasi. Kepada Kelurahan Sukamulya, alokasi dukungan insentif permodalan bagi home industry olahan jamu ini dapat dikerahkan untuk memicu kesejahteraan wilayah. Teruntuk skuad mahasiswa KKN penerus, pembinaan di sektor legalitas produk UMKM, yakni perolehan NIB dan PIRT, akan mengeskalasi jangkauan pasar penjualan komoditas jamu kemasan karya warga Sukamulya.
Hanifah Arnelia