Kemampuan literasi Al-Qur’an merepresentasikan fondasi spiritual yang mendeterminasi etika, karakter, dan kohesi sosial dalam masyarakat muslim. Identitas keberagamaan yang kuat di Indonesia diwujudkan melalui eksistensi sentra-sentra pembelajaran informal seperti Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) dan kelompok Majelis Taklim. Di Kelurahan Sukamulya, geliat antusiasme syiar agama ini tercermin dari tingginya partisipasi komunal dalam kegiatan pengajian warga.
Walau demikian, gairah keberagamaan ini mengalami anomali akibat adanya kesenjangan fasilitas fisik dan kendala metodologi pedagogis. Peninjauan lapangan awal membongkar realitas bahwa infrastruktur kelayakan belajar (khususnya kondisi fisik mushaf Al-Qur'an dan buku Iqra) yang digunakan secara komunal di majelis-majelis telah mengalami degradasi parah, usang, atau bahkan robek. Di samping persoalan logistik, tantangan kronis lainnya bermuara pada kualitas bacaan jamaah, khususnya pada segmen orang dewasa dan lansia. Sebagian besar pengajian umum terhenti pada fase dengar-ceramah pasif, tanpa adanya penetrasi koreksi tajwid atau presisi titik artikulasi bunyi (makhorijul huruf) secara klasikal. Banyak warga lansia yang memendam rasa sungkan untuk kembali belajar mengeja aksara hijaiyah dari dasar.
Sebagai respons intelektual dan perwujudan tridharma pengabdian sosial-keagamaan, mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Tangerang merancang inisiatif paralel. Program "Hibah Al-Qur'an" tidak didekonstruksi sekadar sebagai pembagian barang cuma-cuma yang karitatif, melainkan dikawinkan dengan agenda pendampingan literasi terstruktur (Kelas Tahsin). Pendekatan ini diformulasikan menggunakan filosofi pendidikan orang dewasa (Andragogi) agar masyarakat merasa dirangkul tanpa merasa terintimidasi
Urgensi intervensi didorong oleh defisitnya aksesibilitas terhadap mushaf yang layak pakai dan rendahnya kompetensi membaca Al-Qur'an secara tertib dan tartil (tahsin) di kalangan akar rumput. Warga dewasa kerap terabaikan dari sistem pendidikan baca-tulis Al-Qur'an karena ketiadaan mentor yang dapat mengampu mereka secara empatik di sela-sela waktu produktif mencari nafkah.
Kelompok yang sangat dirugikan dari situasi ini adalah jamaah TPA tingkat lanjut dan komunitas ibu/bapak Majelis Taklim yang harus berbagi mushaf lusuh, sehingga menurunkan kenyamanan tadarus. Jika literasi ini dibiarkan stagnan, akan terjadi pemutusan regenerasi kecakapan keagamaan di dalam struktur keluarga. Peranan mahasiswa KKN sangat fundamental: mereka memiliki literasi teknologi untuk memetakan distribusi hibah berbasis Google Spreadsheet agar presisi antardesa, sekaligus memiliki kompetensi akademis-religius untuk bertindak selaku mentor tahsin interaktif menggunakan visualisasi multimedia.
Tujuan Umum Meremajakan kelayakan infrastruktur sarana pembelajaran Al-Qur'an serta menumbuhkan budaya literasi religius yang tertib, sistematis, dan fasih di tengah ekosistem masyarakat Kelurahan Sukamulya.
Tujuan Khusus
A. Dampak bagi Masyarakat
Implementasi ganda (hibah dan tahsin) ini diproyeksikan untuk mengerek signifikansi motivasi spiritual jamaah. Dari aspek keterampilan pelafalan (psikomotorik), jamaah dewasa akan mereguk transformasi kemampuan menyuarakan ayat suci dengan tajwid yang presisi. Bimbingan ini berdampak pada tereduksinya beban psikologis (rasa malu) pada warga usia lanjut, karena metode pembelajaran mengakomodasi psikologi orang dewasa. Sementara itu, TPA yang menjadi basis kegiatan terdampak dari segi pemenuhan inventaris logistik mushaf standar baru.
B. Dampak bagi Lingkungan
Program ini merupakan pendekatan sosial, spiritual, dan kognitif kemanusiaan, sehingga parameter dampak terhadap lingkungan fisik ekologis tidak spesifik ditekankan).
C. Dampak Jangka Panjang
Berdasarkan pendekatan transfer ilmu, diestimasi kepengurusan DKM atau pengelola Majelis Taklim dapat menyerap rancangan "Kelas Tahsin Akhir Pekan" menjadi rutinitas jadwal permanen. Buku panduan tajwid dasar dan mushaf yang dihibahkan akan terus menyinari lintasan pembelajaran TPA pada generasi ke generasi.
Pada Tanggal 14 Agustus 2026, Hibah 20 Al-Quran , Narasumber Ustad Hafiz..
Tahap 1 – Persiapan Tim mahasiswa mengeksekusi observasi dan silaturahmi perizinan dengan tokoh agama setempat. Survei pemetaan (mapping) untuk menyaring pesantren mana yang menempati kuadran urgensi paling kritis untuk dialiri hibah. Berbarengan dengan hal tersebut, logistik mushaf Al-Qur'an difinalisasi oleh tim DPL.
Tahap 2 – Pelaksanaan Kegiatan implementasi Tanggal 14 Agustus 2026 untuk kalender aktual difokuskan di markas mitra sasaran. Sesi eksekusi dibagi menjadi seremoni pendistribusian hibah mushaf secara merata, yang kemudian disusul oleh pembukaan "Kelas Tahsin Akhir Pekan" yang dimoderatori oleh mahasiswa.
Tahap 3 – Interaksi dengan Peserta Untuk menetralisasi kebosanan dan kendala kognitif pada kelompok dewasa, mahasiswa menyisipkan inovasi Multimedia Interaktif. Tim menyalakan proyektor portabel untuk menyorot video infografis mengenai organ wicara manusia (visualisasi posisi lidah dan rongga mulut saat melafalkan makharijul huruf tertentu). Tontonan ini memberikan petunjuk konkret dibandingkan sekadar tiruan bunyi suara fasilitator. Suasana interaksi diatur sedemikian rupa agar lebur dalam kesetaraan, menghilangkan hierarki menggurui.
Tahap 4 – Hasil Kegiatan Produk final yang diharapkan adalah pemerataan fasilitas mushaf baru di berbagai titik krisis, dan terselenggaranya siklus kelas bimbingan bacaan tartil. (Capaian jumlah Al-Qur'an yang disalurkan ini 20.
Tahap 5 – Evaluasi Proses validasi kompetensi diagendakan dengan menggelar pengujian fonetik awal (pre-test) pelafalan huruf tunggal yang akan dikomparasikan dengan akurasi pasca-pendampingan (post-test). Nilai margin perbaikan bacaan: 90%.
Tahap 6 – Tindak Lanjut Pihak mitra didorong untuk meneruskan kultur bimbingan kelas kecil ini secara berdikari setelah tim mahasiswa KKN menyelesaikan masa tugas lapangan.

Pengambilan Al-Quran di Kementerian Agama.

Serah terima Al-Quran bersama Pak Kurnia Afandi di Kementerian Agama.

Tanda tangan dan serah terima Hibah Al-Quran sejumlah 20 di Pesantren Roudhotul Mubtadiin.

Dokumentasi terakhir setelah wawancara bersama Ustad Hafiz melaksanakan Hibah Al-Quran bersama Tim.
Kesimpulan
Program Penguatan Literasi Al-Qur'an di Kelurahan Sukamulya mendemonstrasikan kelugasan mahasiswa KKN dalam menyatukan pemberdayaan filantropi logistik dengan perbaikan kompetensi substantif. Bantuan mushaf dan Iqra baru berfungsi sebagai generator semangat bagi warga untuk membuka kembali lembaran suci, namun "Kelas Tahsin Akhir Pekan" berbasis Andragogi yang didukung perangkat video proyektor visual adalah kunci perbaikan kualitas tilawah. Pengabdian ini menjadi oase di tengah gersangnya sarana pembelajaran kelompok dewasa, menata ulang tata cara pengucapan teks Al-Qur'an agar terhindar dari penyimpangan linguistik dan makna.
Saran
Bagi pengurus TPA dan pimpinan Majelis Taklim, disarankan memformulasikan sistem pencatatan inventaris perpustakaan (peminjaman) untuk merawat integritas fisik mushaf yang telah disuplai. Bagi masyarakat usia dewasa, rasa canggung dalam belajar baca aksara selayaknya ditinggalkan dengan berpartisipasi proaktif pada setiap forum bedah tajwid. Bagi mahasiswa KKN suksesor, program tahsin ini sangat potensial diangkat levelnya menjadi kompetisi internal (Musabaqah Tilawatil Qur'an tingkat desa) demi memancing antusiasme dan apresiasi pada talenta keagamaan generasi muda lokal.
Hanifah Arnelia