Persoalan manajemen limbah domestik dan institusional terus menjadi tantangan lingkungan krusial yang berdampak sistemik terhadap mitigasi perubahan iklim dan sanitasi publik. Di Kabupaten Tangerang, yang dikenal dengan lanskap urban padat dan kawasan industri, beban sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) seperti Jatiwaringin semakin mengkhawatirkan. Merespons krisis ekologis ini, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Tangerang sejak tahun 2016 telah memprakarsai inovasi tata kelola sampah dari hulu yang dinamakan program Kurangi Sampah Sekolah Kita (KURASAKI). Program KURASAKI berupaya melakukan revolusi mental radikal dengan meredefinisi paradigma "buanglah sampah pada tempatnya" menjadi "buanglah sampah dengan tempatnya"—sebuah kebijakan zero waste yang menekan produksi sampah hingga 75% dengan mengeliminasi tong sampah konvensional di koridor, memaksa warga sekolah menolak (refuse) kemasan sekali pakai.
Lingkungan SMP Negeri 2 Cikupa, sebagai institusi dengan populasi murid yang masif (lebih dari 1.200 siswa), memiliki potensi kerawanan dalam hal produksi sampah plastik yang bersumber dari konsumsi makanan kantin. Berdasarkan observasi awal, infrastruktur pengelolaan lingkungan di sekolah mitra masih bergantung pada metode kumpul-angkut-buang, di mana upaya pemilahan dari sumbernya belum berjalan secara sistemik.
Dalam rangka mendukung kebijakan daerah tersebut dan menjalankan tridharma perguruan tinggi, mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Tangerang di Kelurahan Sukamulya mengintegrasikan program KURASAKI ke dalam kerangka pengabdian. Proposal kegiatan ini dirancang tidak hanya untuk mereplikasi instruksi administratif, melainkan membumikannya melalui Project-Based Learning. Program ini difokuskan pada pengadaan infrastruktur pendukung (drum komposter dan tong terpilah), edukasi metode 3R (Reduce, Reuse, Recycle), serta pelibatan siswa sebagai aktor otonom dalam siklus pembusukan limbah organik (rot).
Pelaksanaan kegiatan ini sangat mendesak akibat tingginya rasio timbulan sampah plastik harian dari aktivitas sivitas akademik. Konsumsi makanan dengan kemasan plastik sekali pakai berkontribusi langsung pada beban residu anorganik yang sulit terurai. Jika kebiasaan ini tidak didekonstruksi, akumulasi sampah akan memperburuk estetika sekolah, menimbulkan bau tidak sedap, dan menghilangkan sensitivitas ekologis generasi muda.
Pihak yang paling terdampak adalah seluruh warga sekolah (siswa, guru, pengelola kantin) yang menempati ruang akademik tersebut. Generasi remaja usia menengah pertama adalah sasaran paling strategis untuk ditanamkan kedisiplinan karakter. Mahasiswa KKN memiliki legitimasi keilmuan dan energi eksekusi untuk mentransformasikan pendekatan teoretis ke dalam langkah fisik; yakni dengan mendampingi siswa memilah jenis sampah, melatih cara membiakkan mikroba dalam pembuatan kompos, dan memantau kedisiplinan berbasis teknologi pelaporan digital sederhana.
Tujuan Umum Membangun kesadaran lingkungan dan kebiasaan baru (new habit) pada siswa SMP Negeri 2 Cikupa melalui praktik langsung pengurangan plastik sekali pakai, pemilahan, dan pengolahan daur ulang berbasis program KURASAKI.
Tujuan Khusus
A. Dampak bagi Masyarakat (Sivitas Akademika Sekolah)
Berdasarkan tinjauan konsep KURASAKI secara komprehensif, program ini mendesak terjadinya perubahan perilaku komunal. Siswa diproyeksikan untuk lebih mandiri dan disiplin dengan membiasakan membawa wadah makanan (lunch box) dan botol minum (tumbler) sendiri dari rumah untuk menolak kemasan sekali pakai. Secara kognitif, peserta akan memperoleh pengetahuan teknis biologi dasar mengenai dekomposisi organik dari sisa daun dan makanan.
B. Dampak bagi Lingkungan
Integrasi komposter drum berkapasitas 200 liter akan memotong rantai sampah organik agar tidak berakhir di TPA, melainkan diurai menjadi pupuk kompos yang bernutrisi. Pupuk ini pada akhirnya berdampak langsung pada penghijauan taman dan ruang terbuka hijau di dalam kompleks sekolah. Secara persentase, apabila merujuk pada regulasi KURASAKI Kabupaten Tangerang, program ini berpotensi memangkas produksi residu limbah secara drastis.
C. Dampak Jangka Panjang
Infrastruktur tempat sampah terpilah dan komposter aerobik yang diinstal oleh mahasiswa KKN berstatus sebagai aset permanen sekolah. Jika dipantau secara berkesinambungan, program ini akan merevolusi manajemen kebersihan sekolah yang lebih mandiri dan berkelanjutan, selaras dengan visi Sekolah Sehat berwawasan lingkungan.
Kegiatan lokakarya luring Kurasaki dilaksanakan pada 30 Juli 2026 bertempat di fasilitas SMP Negeri 2 Cikupa, Kabupaten Tangerang. DI hadiri sebanyak 3 kelas. Kegiatan diawali dengan pengerjaan kuesioner kognitif awal (pre-test) untuk mengidentifikasi tingkat pemahaman peserta sebelum memperoleh materi edukasi.
Tahap 1 – Persiapan
Koordinasi diawali dengan audiensi terhadap Majelis Guru dan Komite Sekolah SMPN 2 Cikupa untuk menyelaraskan persepsi mengenai konsep tanpa-sampah (zero waste). Tim KKN mempersiapkan rancangan infrastruktur berupa pengadaan 10 set tempat sampah terpilah yang dilabeli kode QR, serta merakit 2 nit drum komposter yang dilengkapi dengan instalasi pipa aerasi agar sirkulasi dekomposisi organik tidak memicu pelepasan gas berbau tajam10. Audit observasi awal volume sampah dilakukan untuk menetapkan parameter dasar (baseline).
Tahap 2 – Pelaksanaan
Kegiatan implementasi dari jam 08:00 – 10:00 dibuka dengan sosialisasi masif kepada perwakilan kelas. Mahasiswa KKN menyampaikan materi tentang bahaya degradasi mikroplastik dan peluncuran instruksi wajib membawa wadah makan pribadi. Bersamaan dengan itu, instalasi komposter drum ditempatkan di titik strategis dekat area kantin atau taman belakang.
Tahap 3 – Interaksi dengan Peserta
Peserta yang ditunjuk sebagai Duta Lingkungan (Adiba Azara) diajak mempraktikkan proses pemilahan limbah daun kering dan sisa organik dari kantin untuk dimasukkan ke dalam komposter. Mahasiswa membimbing siswa menyemprotkan cairan aktivator mikroba (bio-activator) dan memantau kelembapan komposter. Selain itu, mahasiswa mengedukasi siswa cara memindai kode QR pada tong sampah menggunakan ponsel pintar. Pemindaian ini terhubung ke formulir log digital untuk memfasilitasi pelaporan status kapasitas sampah harian.
Tahap 4 – Hasil Kegiatan
Produk nyata dari kegiatan ini berupa instalasi 2 unit komposter aerobik yang beroperasi penuh dan tersebarnya set tempat sampah kategoris. Penurunan kuantitas limbah plastik diharapkan dapat diobservasi secara visual di lapangan membedakan sampa organik dan anorgantik.
Tahap 5 – Evaluasi
Desain evaluasi dirancang menggunakan pembandingan skor pre-test dan post-test terkait retensi pemahaman ekologis siswa. Kuesioner pemantauan juga mengukur fluktuasi berat harian sampah yang dihasilkan sekolah. Namun, angka riil peningkatan pemahaman dan rasio reduksi sampah 100%.
Tahap 6 – Tindak Lanjut
Kegiatan operasional komposter diestafetkan pengelolaannya kepada pengurus OSIS atau kelompok kerja sekolah. Mahasiswa merancang skema pemberian insentif (kompetisi kelas terbersih atau Green Class Competition) untuk memelihara kedisiplinan pembiasaan.

Visualisasi skemaa kronolis dari survei, penyusunan materi, hingga evaluasi program.

Dokumentasi pemateri yang sedang memaparkan taksonomi Kurasaki.

Aktivitas mahasiswa KKN memoderatori kelompok siswa dalam memecahkan sampah organik dan anorganik.

Momen penutup deklarasi bersama jajaran guru, siswa, dan tim Universitas Muhammadiyah Tangerang. Fotografi aktual.
Kesimpulan
Integrasi Program KURASAKI di SMP Negeri 2 Cikupa mencerminkan keberhasilan perpaduan antara kebijakan tata kelola ekologis pemerintah daerah dengan gerakan akar rumput yang dimotori oleh mahasiswa KKN. Melalui metode pendampingan proyek fisik, program ini mengintervensi kebiasaan linear siswa dengan menghadirkan infrastruktur sirkular: dari pemilahan sampah organik hingga teknologi komposter drum beraerasi. Implementasi pelaporan berbasis QR Code juga mendidik Duta Lingkungan agar tanggap terhadap audit kebersihan ruang publiknya sendiri. Pendekatan ini meletakkan jangkar pendidikan karakter yang mengajarkan siswa bahwa setiap individu bertanggung jawab penuh terhadap jejak sisa konsumsinya.
Saran
Bagi mitra (SMP Negeri 2 Cikupa), disarankan untuk terus mengintegrasikan tata kelola komposter ini ke dalam kurikulum mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau prakarya, sehingga pemantauan kompos memiliki nilai akademis. Bagi siswa/Duta KURASAKI, pembiasaan menolak plastik (membawa wadah mandiri) wajib dipertahankan secara konsisten tanpa memerlukan paksaan instruksi. Bagi pemerintahan Kelurahan Sukamulya, purwarupa komposter skala sekolah ini dapat direplikasi di tingkat rumah tangga atau bank sampah Rukun Warga (RW) guna mengakselerasi lingkungan desa yang berketahanan ekologis
Hanifah Arnelia