Lingkungan sekolah merupakan sarana efektif untuk menanamkan kepedulian lingkungan dan pola hidup sehat sejak dini. Sekolah Dasar (SD) tidak hanya berfokus pada pendidikan akademis, tetapi juga memainkan peran krusial dalam membentuk karakter, kreativitas, dan kesadaran ekologis para siswanya. Dalam upaya mewujudkan lingkungan sekolah yang bersih, asri, dan produktif, diperlukan edukasi aplikatif yang melibatkan partisipasi aktif seluruh warga SDN Periuk Jaya Permai.
Namun, saat ini masih sering dijumpai tantangan lingkungan berupa penyerapan air tanah yang kurang optimal, pemanfaatan sampah daur ulang yang belum maksimal, serta minimnya pemahaman siswa mengenai pemanfaatan tanaman herbal di sekitar mereka. Oleh karena itu, kegiatan berfokus pada tiga pilar utama ekologi, kreativitas, dan kesehatan dipandang sangat perlu untuk dilaksanakan.
1. Pemahaman Lubang Biopori
Lubang resapan biopori merupakan solusi praktis untuk meningkatkan daya serap air hujan ke dalam tanah sekaligus mengolah sampah organik menjadi kompos. Edukasi biopori penting untuk melatih siswa menjaga keseimbangan lingkungan lokal dan mencegah genangan air di sekitar sekolah.
2. Pembuatan Kolase
Melalui seni pembuatan kolase (misalnya menggunakan bahan alam atau daur ulang), siswa diajak untuk mengasah motorik halus, imajinasi, dan kreativitas. Aktivitas ini mengajarkan siswa bahwa barang bekas atau bahan alam di sekitar mereka memiliki nilai estetika dan manfaat baru jika dikelola dengan kreatif.
3. Tanaman Obat Keluarga (TOGA)
Pengenalan dan penanaman TOGA bertujuan untuk mendekatkan siswa pada kekayaan tanaman obat tradisional Indonesia. Dengan mengenal TOGA, siswa belajar memanfaatkan pekarangan sekolah secara produktif serta memahami cara-cara alami dalam menjaga kesehatan tubuh.
Melalui penggabungan ketiga elemen tersebut, kegiatan "Pemahaman Lubang Biopori, Pembuatan Kolase, dan Tanaman TOGA di Lingkungan SDN Periuk Jaya Permai" diharapkan dapat menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, berkesan, dan berdampak nyata bagi pembentukan sikap peduli lingkungan serta gaya hidup sehat bagi para siswa.
Mengapa kegiatan tersebut perlu dilaksanakan
1. Solusi Masalah Lingkungan Lokal (Biopori)
Mencegah Genangan Air: Halaman sekolah yang terlalu banyak ditutup semen/aspal sering kali memicu genangan air saat hujan. Biopori mempercepat penyerapan air kembali ke tanah.
Pengolahan Sampah Organik di Tempat: Sampah dedaunan di area sekolah tidak perlu dibakar atau dibuang begitu saja, melainkan dimasukkan ke lubang biopori untuk diubah menjadi pupuk kompos alami.
2. Pembentukan Karakter & Kesadaran Ekologis Sejak Dini
Pembentukan kebiasaan peduli lingkungan paling efektif dimulai pada usia Sekolah Dasar.
Daripada sekadar teori di kelas, siswa belajar secara praktis dan langsung (learning by doing) bagaimana menjaga ekosistem sekitar mereka.
3. Wadah Kreativitas & Edukasi Pengelolaan Sampah (Kolase)
Mengolah bahan daur ulang atau bahan alam (seperti daun kering dan biji-bijian) menjadi karya seni kolase melatih motorik halus dan daya imajinasi anak.
Mengajarkan siswa pandangan baru bahwa "barang sisa" masih memiliki nilai estetika dan manfaat jika dikreatifi.
4. Kemandirian Kesehatan & Pengenalan Warisan Lokal (TOGA)
Mengedukasi siswa tentang manfaat tanaman herbal tradisional Indonesia yang sering dijumpai di kehidupan sehari-hari (seperti jahe, kunyit, serai).
Memanfatkan lahan kosong di sekolah menjadi area produktif dan asri yang menunjang kesehatan warga sekolah.
5. Mendukung Program Sekolah Sehat & Adiwiyata
Kegiatan terintegrasi ini langsung mendukung indikator Sekolah Adiwiyata (sekolah peduli dan berbudaya lingkungan) serta mewujudkan lingkungan belajar yang asri, hijau, dan kondusif bagi tumbuh kembang anak.
1. Tujuan Umum
Secara umum, kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran ekologis, mengasah kreativitas, serta meningkatkan pemahaman gaya hidup sehat berbasis lingkungan bagi siswa-siswi di lingkungan SDN Periuk Jaya Permai.
2. Tujuan Khusus
Edukasi Lingkungan & Resapan Air (Biopori):
Memberikan pemahaman praktis kepada siswa tentang pentingnya menjaga kelestarian air tanah dan pencegahan genangan.
Melatih siswa mengolah sampah organik di area sekolah menjadi pupuk kompos melalui penggunaan lubang resapan biopori.
Pengembangan Kreativitas & Edukasi Daur Ulang (Kolase):
Mengasah keterampilan motorik halus, daya imajinasi, dan ekspresi seni siswa.
Menanamkan pemahaman bahwa bahan alam sisa (seperti daun kering dan biji-bijian) serta barang daur ulang dapat dimanfaatkan kembali menjadi karya seni yang bernilai.
Pengenalan Kesehatan Alami & Pemanfaatan Lahan (TOGA):
Mengenalkan jenis-jenis dan manfaat Tanaman Obat Keluarga (TOGA) sebagai bagian dari kekayaan budaya dan kesehatan tradisional Indonesia.
Mengajak siswa aktif memanfaatkan pekarangan atau lahan kosong sekolah menjadi area hijau yang produktif dan bermanfaat.
Meningkatkan Resapan Air & Mencegah Genangan
Pembuatan lubang biopori membantu mempercepat penyerapan air hujan ke dalam tanah, mengurangi genangan air di halaman sekolah, serta membantu menjaga cadangan air tanah di lingkungan sekitar.
Pengurangan dan Pengolahan Sampah Organik
Sampah dedaunan dan sisa makanan tidak lagi menumpuk atau dibakar, melainkan diolah secara alami di dalam biopori menjadi pupuk kompos yang menyuburkan tanah.
Penghijauan dan Asrinya Area Sekolah
Penanaman TOGA menambah RTH (Ruang Terbuka Hijau) di lingkungan SDN Periuk Jaya Permai, menjadikan udara sekitar lebih segar, bersih, dan asri.
Pengurangan Limbah Lewat Daur Ulang
Seni kolase memanfaatkan bahan alam jatuh (daun, ranting, biji-bijian) atau sampah kertas bekas, sehingga mengedukasi budaya reuse (penggunaan kembali) bahan yang ada.
2. Dampak Bagi Masyarakat (Siswa, Orang Tua, & Warga Sekitar)
Edukasi Pemanfaatan Herbal Tradisional
Siswa dan orang tua mendapatkan wawasan tentang jenis serta manfaat Tanaman Obat Keluarga (TOGA) untuk pertolongan pertama kesehatan keluarga secara alami dan hemat biaya.
Pembentukan Karakter Peduli Lingkungan Sejak Dini
Siswa membawa pulang kebiasaan baik (eco-friendly habits) dari sekolah ke rumah, seperti tidak membuang sampah sembarangan dan merawat tanaman.
Inspirasi Kegiatan Ekologis bagi Warga Sekitar
Keberhasilan penerapan biopori dan taman TOGA di sekolah dapat menjadi percontohan (role model) bagi warga RT/RW di sekitar SDN Periuk Jaya Permai untuk menerapkan hal serupa di pemukiman mereka.
Mengasah Kreativitas dan Keterampilan Anak
Kegiatan kolase memberikan dampak positif pada perkembangan motorik dan daya cipta anak, memicu mereka untuk melihat nilai estetika dari benda-benda di sekitar mereka.
Suasana pagi di SDN Periuk Jaya Permai tampak berbeda dan jauh lebih riuh dari biasanya. Lapangan sekolah yang rindang telah ditata dengan beberapa pos (station) edukasi. Para siswa dari berbagai tingkatan kelas berkumpul dengan wajah penasaran dan antusias untuk mengikuti serangkaian kegiatan lingkungan yang dikemas secara interaktif.
Kegiatan diawali dengan pembukaan singkat dan penyampaian materi secara menyenangkan oleh tim penyelenggara. Agar tidak membosankan, penjelasan diselingi dengan kuis interaktif dan peragaan langsung.
1. Sesi Biopori: Belajar Menjadi "Penyelamat Air Tanah"
Para siswa diajak berkumpul di beberapa titik halaman sekolah yang sudah ditandai.
Tim memperagakan cara menggunakan alat bor tanah manual. Siswa bergantian mencoba memutar bor tanah dengan bimbingan dan sorak sorai semangat dari teman-temannya.
Setelah lubang biopori terbentuk, pipa PVC berlubang dimasukkan. Siswa kemudian diajak mengumpulkan dedaunan kering di sekitar lapangan untuk dimasukkan ke dalam lubang sebagai bahan baku kompos alami.
Momen Keseruan: Anak-anak sangat gembira saat menyadari bahwa daun-daun kering yang tadinya dianggap "sampah penyemak halaman" ternyata sangat berguna untuk memberi makan organisme tanah dan menyerap air hujan.
2. Sesi Kolase: Mengubah Daun Kering Jadi Karya Seni
Setelah beraktivitas fisik di luar, kegiatan berlanjut ke area kreativitas untuk pembuatan kolase.
Setiap siswa dibagikan kertas gambar, lem, serta aneka bahan alam—seperti dedaunan kering beragam bentuk, biji-bijian, dan ranting kecil yang sebelumnya sudah dikumpulkan.
Dengan bimbingan tim, jemari mungil para siswa mulai menempel dan menyusun bahan-bahan tersebut menjadi bentuk hewan, pemandangan, hingga pepohonan.
Momen Keseruan: Suasana kelas berubah riuh oleh imajinasi anak-anak. Mereka saling memamerkan hasil karya kolase yang unik dan warna-warni, membuktikan bahwa benda alam di sekitar mereka bisa disulap menjadi seni yang indah.
3. Sesi Tanaman TOGA: Menanam Apotek Hidup Sekolah
Sebagai penutup, seluruh peserta bergerak menuju sudut taman sekolah yang telah disiapkan menjadi area Apotek Hidup.
Siswa diperkenalkan pada berbagai jenis tanaman obat seperti jahe, kunyit, serai, dan lidah buaya lengkap dengan penjelasan manfaat kesehatannya lewat cara bercerita (storytelling).
Setiap kelompok siswa memegang pot atau polibag masing-masing, mengisinya dengan media tanah, dan menanam bibit TOGA secara langsung. Mereka juga memasang papan nama kecil untuk setiap tanaman agar mudah dikenali.
Momen Keseruan: Anak-anak merawat tanaman yang baru mereka tanam dengan menyiramnya bersama-sama dan berjanji akan menjaga "Apotek Hidup" milik sekolah tersebut setiap hari.
Hasil Akhir Kegiatan
Kegiatan ditutup dengan foto bersama sambil memamerkan hasil karya kolase dan pot tanaman TOGA. SDN Periuk Jaya Permai kini resmi memiliki titik-titik lubang biopori baru untuk resapan air, taman TOGA produktif di area sekolah, serta siswa-siswi yang pulang dengan membawa senyuman, karya seni unik, dan pemahaman baru tentang pentingnya menjaga bumi sejak dini.








Demikian laporan kegiatan "Pemahaman Lubang Biopori, Pembuatan Kolase, dan Tanaman TOGA di Lingkungan SDN Periuk Jaya Permai" ini kami susun. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi sarana edukasi teoritis, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam membentuk karakter siswa yang peduli lingkungan, kreatif, serta membiasakan pola hidup sehat sejak dini.
Besar harapan kami agar kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik dan memberikan manfaat yang berkelanjutan, tidak hanya bagi seluruh warga SDN Periuk Jaya Permai, tetapi juga bagi lingkungan masyarakat sekitar.
Atas perhatian, dukungan, dan kerja sama dari seluruh pihak yang terlibat, kami mengucapkan terima kasih.
Shah Shahieza Sherly