Berdasarkan hasil observasi lapangan yang dilakukan oleh tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Bojong Renged, ditemukan bahwa persoalan lingkungan masih menjadi salah satu tantangan yang dihadapi masyarakat dalam mendukung pembangunan desa yang berkelanjutan. Pertumbuhan jumlah penduduk dan aktivitas rumah tangga menghasilkan peningkatan volume sampah, khususnya sampah organik yang sebagian besar belum dikelola secara optimal. Di sisi lain, kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan yang berbasis pemanfaatan sumber daya lokal masih perlu ditingkatkan. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan berbagai permasalahan ekologis, seperti penumpukan sampah, pencemaran lingkungan, serta berkurangnya kualitas kebersihan dan kesehatan lingkungan desa.
Selain permasalahan pengelolaan sampah, tim KKN juga menemukan bahwa pemanfaatan lahan pekarangan dan ruang terbatas untuk kegiatan produktif masih belum dilakukan secara maksimal. Padahal, Desa Bojong Renged memiliki potensi besar untuk mengembangkan pertanian skala rumah tangga yang dapat mendukung ketahanan pangan keluarga sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan. Keterbatasan lahan produktif, kurangnya pemanfaatan teknologi pertanian sederhana, serta minimnya inovasi dalam budidaya tanaman menjadi faktor yang menyebabkan potensi tersebut belum berkembang secara optimal. Akibatnya, kebutuhan sayuran dan komoditas hortikultura masyarakat masih banyak bergantung pada pasokan dari luar wilayah desa.
Permasalahan ekologis lainnya yang turut menjadi perhatian adalah masih rendahnya penerapan konsep ekonomi sirkular dalam kehidupan masyarakat. Sampah organik rumah tangga yang sebenarnya dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomis sering kali berakhir sebagai limbah. Kondisi ini menunjukkan adanya kebutuhan akan inovasi yang tidak hanya mampu menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan edukasi bagi masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan suatu pendekatan yang mampu mengintegrasikan aspek lingkungan, teknologi, dan pemberdayaan masyarakat dalam satu program yang berkelanjutan.
Berangkat dari kondisi tersebut, tim KKN mengusung konsep Smart Green Village sebagai upaya untuk mendorong terwujudnya desa yang lebih hijau, produktif, dan berkelanjutan melalui pemanfaatan teknologi sederhana serta peningkatan kesadaran ekologis masyarakat. Konsep ini menekankan pentingnya integrasi antara pengelolaan lingkungan, ketahanan pangan, dan pemberdayaan masyarakat dalam rangka menciptakan solusi yang aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan desa.
Sebagai implementasi dari konsep Smart Green Village, tim KKN melaksanakan kegiatan penyemaian tanaman pakcoy di Green House yang nantinya akan dikembangkan menjadi kebun hidroponik. Program ini dipilih karena hidroponik merupakan metode budidaya tanaman yang efisien dalam penggunaan lahan dan air, sehingga sangat sesuai diterapkan pada lingkungan masyarakat yang memiliki keterbatasan ruang tanam. Selain menghasilkan sayuran yang sehat dan berkualitas, kebun hidroponik diharapkan dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat mengenai pertanian modern yang ramah lingkungan.
Selanjutnya, tim KKN juga melakukan penyemaian tanaman cabai yang akan dibudidayakan menggunakan galon bekas sebagai media tanam. Program ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan produktivitas pertanian rumah tangga, tetapi juga sebagai bentuk pemanfaatan kembali limbah plastik yang masih memiliki nilai guna. Dengan memanfaatkan galon bekas sebagai pot tanaman, masyarakat diajak untuk menerapkan prinsip reduce, reuse, dan recycle (3R) dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, budidaya cabai diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap fluktuasi harga cabai di pasaran.
Untuk mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih terpadu, tim KKN juga mengembangkan program budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) di Green House. Budidaya maggot dipilih sebagai solusi inovatif dalam mengatasi permasalahan sampah organik rumah tangga yang selama ini belum dikelola secara optimal. Maggot memiliki kemampuan mengurai sampah organik dengan cepat sehingga dapat mengurangi volume limbah yang dibuang ke lingkungan. Selain memberikan manfaat ekologis, maggot juga memiliki nilai ekonomis karena dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan ikan yang kaya protein. Dengan demikian, program ini tidak hanya berkontribusi terhadap pengurangan limbah, tetapi juga berpotensi menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, tim KKN berharap dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat Desa Bojong Renged mengenai pentingnya menjaga lingkungan sekaligus memanfaatkan sumber daya yang tersedia secara bijaksana. Program penyemaian pakcoy untuk hidroponik, budidaya cabai dengan media galon bekas, dan budidaya maggot merupakan bentuk integrasi antara teknologi sederhana, pengelolaan lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat yang sejalan dengan konsep Smart Green Village. Dengan adanya program ini, diharapkan Desa Bojong Renged dapat menjadi contoh desa yang mampu mengelola permasalahan ekologis secara mandiri, meningkatkan ketahanan pangan masyarakat, serta mewujudkan pembangunan desa yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
Pelaksanaan kegiatan penyemaian tanaman pakcoy, penyemaian tanaman cabai, dan budidaya maggot di Green House Desa Bojong Renged didasarkan pada kebutuhan nyata masyarakat akan pengelolaan lingkungan yang lebih baik dan pemanfaatan sumber daya yang lebih optimal. Berdasarkan hasil observasi lapangan, masih terdapat beberapa permasalahan, seperti belum optimalnya pemanfaatan lahan pekarangan, terbatasnya penerapan budidaya tanaman yang ramah lingkungan, serta pengelolaan limbah organik rumah tangga yang belum dilakukan secara berkelanjutan. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan sekaligus menyebabkan hilangnya peluang ekonomi yang sebenarnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Penyemaian tanaman pakcoy diperlukan sebagai langkah awal dalam membangun sistem pertanian hidroponik di Green House. Sistem hidroponik dipilih karena mampu menghasilkan sayuran yang berkualitas tanpa membutuhkan lahan yang luas, penggunaan air yang lebih efisien, serta relatif mudah diterapkan sebagai media edukasi bagi masyarakat. Keberadaan kebun hidroponik juga diharapkan dapat menjadi contoh pertanian modern yang dapat dikembangkan oleh warga untuk memenuhi kebutuhan sayuran keluarga maupun sebagai peluang usaha.
Sementara itu, penyemaian tanaman cabai dilakukan untuk mengembangkan budidaya cabai menggunakan galon bekas sebagai media tanam. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan menghasilkan tanaman produktif, tetapi juga mendorong pemanfaatan barang bekas sehingga mengurangi limbah anorganik. Penggunaan galon bekas sebagai pot merupakan bentuk penerapan prinsip reuse yang mudah diterapkan oleh masyarakat dan dapat menjadi alternatif berkebun pada lahan yang terbatas. Selain itu, budidaya cabai di tingkat rumah tangga diharapkan dapat membantu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap fluktuasi harga cabai di pasaran.
Adapun budidaya maggot (Black Soldier Fly) menjadi bagian penting dari program karena mampu mengubah limbah organik rumah tangga menjadi sumber daya yang bermanfaat. Selama ini, sebagian besar limbah organik masih bercampur dengan sampah lainnya dan berakhir di tempat pembuangan akhir. Melalui budidaya maggot, limbah organik dapat diolah menjadi pakan berprotein tinggi untuk ternak maupun ikan, sedangkan sisa hasil budidayanya (frass) dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik bagi tanaman. Dengan demikian, kegiatan ini mendukung pengurangan volume sampah sekaligus menciptakan siklus pemanfaatan sumber daya yang berkelanjutan.
Ketiga kegiatan tersebut saling terintegrasi dalam konsep Smart Green Village, yaitu membangun sistem yang menghubungkan pengelolaan limbah, pertanian ramah lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat. Limbah organik rumah tangga dimanfaatkan sebagai media budidaya maggot, hasil samping budidaya maggot dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk tanaman pakcoy dan cabai, sedangkan pemanfaatan galon bekas sebagai pot mendukung praktik daur ulang dalam kegiatan pertanian. Integrasi ini menunjukkan bahwa permasalahan lingkungan dapat diatasi melalui pendekatan yang sederhana, inovatif, dan melibatkan partisipasi aktif masyarakat.
Oleh karena itu, kegiatan ini perlu dilaksanakan tidak hanya untuk menghasilkan kebun hidroponik, kebun cabai, dan budidaya maggot, tetapi juga untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan, mengelola limbah secara bijaksana, serta memanfaatkan potensi lokal secara berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, diharapkan Green House Desa Bojong Renged dapat menjadi pusat edukasi lingkungan dan percontohan penerapan Smart Green Village yang mampu mendorong terwujudnya masyarakat yang lebih mandiri, produktif, dan peduli terhadap kelestarian lingkungan.
1. Rizki Nurilhan (23742010054)
2. Erika Ulandari (23552010206)
3. Nabila Ardenia (23932020002)
4. Dewi Rara Amyati (23862080051)
5. Nusrotul Maula (23862060094)
6. Isaura khalda Syakira (23612010352)
7. Syahara (23612010024)
8. Risma Dwi Riyanti (23742010036)
9. Yuliana Nurfajryanti (23702010288)
10. Pitriya (23142010008)
11. Reni Anggraeni putri (23862060112)
12. Ainun mardiah (23862060085)
13. Muhamad Ramdani (23702010221)
14. Fahira Khoirotunnisa (23622010067)
15. Siti Aryani (236221010055)
16. Sri rahayu (2286206016)
17. Hapipah (23702010131)
18. Hazza Nur Lael (23612010130)
19. Yossi Anjani Putri (23612010017)
20. Rido Salesia F (23932020058)
21. Akmal Farizy (23932020030)
22. M. Reyhan (23932020001)
23. Achmad Radiet M (23552010062)
24. Zacky Al Buchory (23552010231)
25. Muhammad Ardiyan (23262080005)
26. Destiyana sartika fitri (23612010046)
Kegiatan dilakukan mulai pagi hari pada pukul 09.00 yang dimulai dengan mempersiapkan media tanam untuk penyemaian pakcoy dan cabai. Tanaman pakcoy yang sudah disemai nantinya akan ditanam secara hidroponik menggunakan paralon dan tanaman cabai yang sudah disemai nantinya akan ditanam menggunakan limbah plastik yang berupa galon air mineral sebagai potnya. Kegiatan tersebut dilakukan oleh Tim KKN bersama KWT yang bertujuan berkolaborasi dan bertukar ilmu dan pengalaman antara mahasiswa KKN dengan KWT. Kehadiran mahasiswa di GreenHouse disambut antusias oleh KWT karena kehadirannya tersebut membantu KWT untuk menyemai dan mempercepat pertumbuhan dan panen dari tanaman tersebut.
Setelah kegiatan menyemai tanaman pakcoy dan cabai, kegiatan dilanjut dengan budidaya maggot yang bertujuan untuk mengurangi limbah organik rumah tangga serta menambah mata pencaharian para KWT. Budidaya maggot dipilih karena di area Taman Tematik ada budidaya ikan, ayam dan bebek yang sangat cocok untuk pakan ternak dari budidaya maggot tersebut.
Dengan kegiatan tersebut diharapkan kehadiran mahasiswa dapat mengurangi beban para KWT untuk berkebun dan mengajarkan KWT tentang budidaya maggot yang nantinya jika dilanjutkan dapat menambah mata pencaharian para KWT






Pelaksanaan program penyemaian tanaman pakcoy, penyemaian tanaman cabai menggunakan galon bekas sebagai media tanam, serta budidaya maggot di Green House Desa Bojong Renged merupakan salah satu bentuk implementasi konsep Smart Green Village yang mengintegrasikan aspek pertanian berkelanjutan, pengelolaan limbah, dan pemberdayaan masyarakat. Program ini dirancang sebagai respons terhadap berbagai permasalahan yang ditemukan di lapangan, khususnya terkait pemanfaatan lahan yang belum optimal, pengelolaan limbah organik rumah tangga yang masih terbatas, serta perlunya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diperkenalkan pada praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan melalui budidaya hidroponik pakcoy, pemanfaatan galon bekas sebagai media tanam cabai, serta pengolahan limbah organik menggunakan maggot (Black Soldier Fly). Ketiga kegiatan tersebut saling terintegrasi dalam membentuk sistem yang berkelanjutan, di mana limbah organik dapat diolah menjadi sumber daya yang bermanfaat, sementara hasil budidaya tanaman diharapkan mampu mendukung ketahanan pangan keluarga dan meningkatkan kualitas lingkungan desa.
Keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari terlaksananya seluruh rangkaian kegiatan, tetapi juga dari tumbuhnya pemahaman, kepedulian, dan partisipasi masyarakat dalam menerapkan perilaku yang lebih ramah lingkungan. Green House diharapkan dapat terus dimanfaatkan sebagai sarana edukasi, praktik budidaya, dan pusat pembelajaran bagi masyarakat sehingga manfaat program dapat dirasakan secara berkelanjutan meskipun masa pelaksanaan KKN telah berakhir.
Oleh karena itu, keberlanjutan program sangat bergantung pada komitmen seluruh pihak, baik pemerintah desa, pengelola Green House, maupun masyarakat Desa Bojong Renged, untuk terus merawat, mengembangkan, dan mengoptimalkan hasil yang telah dicapai. Dengan sinergi tersebut, diharapkan konsep Smart Green Village tidak hanya menjadi tema kegiatan KKN, tetapi juga menjadi langkah nyata menuju Desa Bojong Renged yang lebih hijau, mandiri, produktif, dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan pembangunan di masa depan.
Rizki Nurilhan