Di tengah persiapan menyambut agenda seminar anti-bullying yang akan dilaksanakan minggu depan di SDN Bojong Renged 6, posko KKN kami bertransformasi menjadi ruang yang penuh kehangatan dan ide-ide kreatif. Kami menyadari bahwa menyampaikan pesan moral tentang kasih sayang dan rasa saling menghargai kepada anak-anak tidak cukup hanya melalui paparan kata-kata di depan kelas, melainkan membutuhkan pendekatan yang ramah, visual, dan menyenangkan. Berangkat dari kesadaran tersebut, seluruh anggota kelompok berkumpul di posko untuk merancang dan membuat bingkai seminar secara mandiri. Melalui sentuhan jemari yang saling melengkapi, proses memotong, mewarnai, hingga merangkai setiap ornamen menjadi momen kebersamaan yang menghidupkan semangat gotong royong di antara kami. Bingkai ini dipersiapkan bukan sekadar sebagai hiasan atau media dokumentasi semata, melainkan sebagai wadah ekspresi dan simbol rasa aman yang ingin kami hadirkan bagi adik-adik di sekolah kelak. Kami berharap, saat anak-anak SDN Bojong Renged 6 berdiri di balik bingkai tersebut pekan depan, terselip rasa gembira dan komitmen di dalam diri mereka untuk menjadi pribadi yang saling merawat serta menolak segala bentuk perundungan. Langkah kecil yang kami persiapkan dengan penuh ketelatenan dari dalam posko ini menjadi bukti ketulusan mahasiswa KKN dalam menyemai benih-benih empati, menciptakan kenangan manis, serta menghadirkan ruang belajar yang aman dan membahagiakan bagi tumbuh kembang anak-anak di lingkungan sekolah.
Anak-anak sekolah dasar lebih mudah tersentuh dan memahami pesan moral melalui media yang visual, menarik, dan menyenangkan. Bingkai foto ini menjadi sarana "ice breaking" yang efektif agar anak-anak tidak merasa digurui, melainkan merasa diajak bermain sambil belajar. Saat anak-anak berfoto di balik bingkai tersebut, momen itu bukan sekadar sesi foto biasa. Bingkai tersebut berfungsi sebagai wadah apresiasi dan bentuk deklarasi simbolis bahwa setiap siswa yang berdiri di sana berkomitmen untuk saling menyayangi dan menolak perundungan di sekolah. Kehadiran media yang dibuat khusus dengan penuh perhatian dapat meruntuhkan rasa canggung antara mahasiswa KKN dan para siswa. Ini membantu menciptakan ruang aman bagi anak-anak untuk lebih terbuka dalam mengikuti seluruh rangkaian seminar. Dari sisi internal mahasiswa KKN, proses perancangan di posko menjadi ruang untuk menyatukan ide, melatih kreativitas dengan sumber daya yang ada, serta mempererat kebersamaan tim sebelum terjun langsung ke lapangan.
1. Rizki Nurilhan (23742010054)
2. Erika Ulandari (23552010206)
3. Nabila Ardenia (23932020002)
4. Dewi Rara Amyati (23862080051)
5. Nusrotul Maula (23862060094)
6. Isaura khalda Syakira (23612010352)
7. Syahara (23612010024)
8. Risma Dwi Riyanti (23742010036)
9. Yuliana Nurfajryanti (23702010288)
10. Pitriya (23142010008)
11. Reni Anggraeni putri (23862060112)
12. Ainun mardiah (23862060085)
13. Muhamad Ramdani (23702010221)
14. Fahira Khoirotunnisa (23622010067)
15. Siti Aryani (236221010055)
16. Sri rahayu (2286206016)
17. Hapipah (23702010131)
18. Hazza Nur Lael (23612010130)
19. Yossi Anjani Putri (23612010017)
20. Rido Salesia F (23932020058)
21. Akmal Farizy (23932020030)
22. M. Reyhan (23932020001)
23. Achmad Radiet M (23552010062)
24. Zacky Al Buchory (23552010231)
25. Muhammad Ardiyan (23262080005)
26. Destiyana sartika fitri (23612010046)
Bingkai interaktif ini menjadi media visual yang ramah anak, membuat pesan anti-perundungan terasa menyenangkan dan lebih mudah diresapi oleh para siswa SDN Bojong Renged 6 dalam kehidupan sehari-hari.
Kehadiran media yang dibuat khusus ini mencairkan suasana, meruntuhkan rasa canggung antara siswa dan mahasiswa KKN, serta menghadirkan rasa nyaman bagi anak-anak untuk mengekspresikan diri.
Proses perancangan di posko menjadi ajang merekatkan tali silaturahmi, memupuk semangat gotong royong, dan mengasah kepedulian sosial antaranggota kelompok KKN.
Menggunakan kardus bekas atau bahan-bahan sisa di sekitar posko menekan penumpukan limbah anorganik di lingkungan desa.
Memberikan teladan langsung kepada adik-adik sekolah dasar bahwa media pembelajaran yang menarik dapat diciptakan dari bahan-bahan sederhana tanpa harus membeli barang baru yang berpotensi menjadi sampah plastik.
Siang itu, suasana posko KKN kami mendadak berubah menjadi sebuah studio kreatif kecil yang dipenuhi gelak tawa dan semangat berproduksi. Di tengah teriknya matahari yang menyapu halaman posko, kami berkumpul melingkar di ruang tengah, mengelilingi lembaran kardus, gunting, cat warna-warni, dan berbagai perlengkapan kerajinan tangan. Kesibukan ini kami mulai dengan satu tujuan yang sama: mempersiapkan bingkai foto interaktif untuk acara seminar anti-bullying yang akan digelar di SDN Bojong Renged 6 pada pekan depan.
Meski peluh menetes di tengah udara siang yang hangat, jemari kami tetap telaten memotong pola, merapikan pinggiran bingkai, dan menggoreskan warna-warna cerah yang disukai anak-anak. Di sela-sela riuhnya suara gunting dan aroma cat yang khas, percakapan hangat mengalir tanpa henti. Kami saling melempar ide tentang hiasan apa yang paling cocok agar bingkai ini tidak hanya terlihat cantik, tetapi juga menyimpan pesan moral yang ramah dan mudah dipahami oleh adik-adik di sekolah dasar kelak. Proses pembuatan media ini terasa begitu personal, karena di setiap detailnya terselip harapan agar bingkai tersebut bisa menjadi tempat anak-anak tersenyum bangga saat mengekspresikan komitmen mereka untuk saling menyayangi dan menolak perundungan.
Saat matahari mulai bergeser ke barat dan hasil kerja keras kami berdiri tegak di sudut posko, ada rasa puas dan hangat yang menyusup di dada. Bingkai sederhana yang lahir dari kerja bersama di siang hari itu bukan sekadar benda mati pelengkap acara, melainkan wujud ketulusan dan energi positif tim KKN yang sudah tidak sabar untuk menyapa dan berbagi keceriaan bersama adik-adik SDN Bojong Renged 6 minggu depan


Rangkaian proses perancangan dan pembuatan bingkai seminar anti-bullying yang kami lakukan di posko KKN menjadi pengingat berharga bahwa sebuah perubahan besar sering kali diawali dari kepedulian-kepedulian kecil yang dirawat bersama. Setiap potongan bahan dan usapan warna yang kami kerjakan siang itu bukan sekadar bentuk persiapan fisik menjelang kegiatan di SDN Bojong Renged 6, melainkan wujud ketulusan untuk menghadirkan ruang belajar yang hangat, ramah, dan membahagiakan bagi anak-anak. Melalui kebersamaan ini, kami tidak hanya mengasah kreativitas dan mempererat solidaritas tim KKN, tetapi juga belajar menyemai rasa empati yang siap kami bagikan kepada adik-adik di sekolah. Semoga media sederhana yang lahir dari kerja keras dan tawa bersama ini mampu menjadi sarana yang berkesan dalam menanamkan nilai-nilai kasih sayang, menolak perundungan, serta meninggalkan jejak kebaikan yang terus membekas di hati warga sekolah.
Rizki Nurilhan