Membersihkan Pasca Panen untuk ditanam kembali

Membersihkan Pasca Panen untuk ditanam kembali

: Senin, 27 Juli 2026 : Bojong Renged

Latar belakang kegiatan

Keberlanjutan lingkungan dan ketahanan pangan di tingkat desa kerap kali berakar dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan dengan penuh kehangatan serta kebersamaan. Di tengah ritme kehidupan pedesaan yang senantiasa selaras dengan alam, keberadaan Kuliah Kerja Nyata hadir bukan sekadar untuk menjalankan pemenuhan kewajiban akademis semata, melainkan menjadi jembatan silaturahmi serta ruang belajar bersama antara mahasiswa dan warga setempat. Usainya masa panen biasanya meninggalkan sisa-sisa media tanam yang tampak tak terpakai, padahal di dalam gundukan tanah dan wadah tersebut masih tersimpan potensi kehidupan baru yang dapat dihidupkan kembali melalui sentuhan kepedulian. Berangkat dari kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan efisiensi sumber daya, kegiatan pembersihan media tanam pasca panen ini dilaksanakan dengan menggandeng Kelompok Wanita Tani sebagai sosok penggerak utama di tingkat tapak. Melalui jemari yang saling bahu-membahu memisahkan sisa akar, menggemburkan kembali tanah yang mengeras, serta merapikan wadah tanam, proses teknis ini bertransformasi menjadi ruang perjumpaan yang penuh arti. Di sela-sela kegiatan membersihkan media tanam, terjalin percakapan hangat, pertukaran pengalaman, serta rasa saling menghargai atas kerja keras dan ketelatenan para ibu anggota kelompok tani dalam merawat ketahanan pangan keluarga. Langkah kecil dalam memulihkan kembali tanah bekas panen ini tidak hanya menekan potensi limbah dan menghemat biaya operasional, tetapi juga menyemai kembali semangat gotong royong yang terhubung erat dengan keseharian warga, sekaligus menyiapkan pijakan yang subur bagi benih-benih baru yang siap tumbuh menghijaukan lingkungan desa di masa mendatang.


Mengapa kegiatan tersebut perlu dilaksanakan

Kegiatan pembersihan dan pemulihan media tanam pasca panen ini perlu dilakukan karena tanah yang telah digunakan biasanya kehilangan kelonggaran dan kelembabannya, terkikis nutrisinya, serta kerap menyimpan sisa-sisa akar tua atau potensi hama yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman berikutnya. Dengan menyisihkan waktu untuk membersihkan, memilah, dan menggemburkan kembali media tanam tersebut, kita tidak hanya menghemat biaya operasional dan menekan potensi limbah plastik wadah tanam, tetapi juga memberikan napas baru bagi tanah agar siap menjadi rumah yang subur dan sehat bagi benih yang akan datang. Lebih dari sekadar tindakan teknis pertanian, proses ini menjadi ruang perjumpaan yang hangat untuk merawat rasa kepedulian terhadap lingkungan, memupuk keakraban bersama warga dan ibu-ibu Kelompok Wanita Tani, serta menghidupkan kembali nilai gotong royong dan rasa terima kasih kita atas setiap rezeki yang telah dihasilkan oleh alam.


Tujuan kegiatan

  1. Mengembalikan kegemburan tanah yang mengeras, memisahkan sisa-sisa akar tua, serta memastikan media tanam bersih dari potensi penyakit atau hama agar siap menjadi rumah yang sehat bagi benih baru.
  2. Menggunakan kembali wadah dan tanah bekas panen untuk menghemat biaya pembelian media baru sekaligus menekan akumulasi limbah wadah tanam di lingkungan desa.
  3. Menciptakan ruang perjumpaan yang hangat antara mahasiswa KKN dan ibu-ibu KWT untuk saling menyapa, berbagi pengalaman, dan memperkuat rasa kebersamaan.
  4. Menghidupkan kembali tradisi bekerja bersama dalam merawat lingkungan sekitar serta mendukung keberlanjutan budidaya pangan mandiri di tingkat keluarga.


Siapa saja yang terlibat pada kegiatan

1. Rizki Nurilhan (23742010054)
2. ⁠Erika Ulandari (23552010206)
3. ⁠Nabila Ardenia (23932020002)
4. ⁠Dewi Rara Amyati (23862080051)
5. Nusrotul Maula (23862060094)
6. Isaura khalda Syakira (23612010352)
7. Syahara (23612010024)
8. ⁠Risma Dwi Riyanti (23742010036)
9. ⁠Yuliana Nurfajryanti (23702010288)
10. ⁠Pitriya (23142010008)
11. ⁠Reni Anggraeni putri (23862060112)
12. ⁠Ainun mardiah (23862060085)
13. ⁠Muhamad Ramdani (23702010221)
14. ⁠Fahira Khoirotunnisa (23622010067)
15. ⁠Siti Aryani (236221010055)
16. ⁠Sri rahayu (2286206016)
17. ⁠Hapipah (23702010131)
18. ⁠Hazza Nur Lael (23612010130)
19. ⁠Yossi Anjani Putri (23612010017)
20. ⁠Rido Salesia F (23932020058)
21. ⁠Akmal Farizy (23932020030)
22. ⁠M. Reyhan (23932020001)
23. ⁠Achmad Radiet M (23552010062)
24. ⁠Zacky Al Buchory (23552010231)
25. ⁠Muhammad Ardiyan (23262080005)
26. ⁠Destiyana sartika fitri (23612010046)


Apa dampak bagi masyarakat dan lingkungan


Ceritakan bagaimana kegiatan tersebut berjalan

Diiringi hembusan angin sore yang sejuk, kehangatan menyelimuti greenhouse desa saat ibu-ibu Kelompok Wanita Tani (KWT) mulai berdatangan seusai menuntaskan rutinitas rumah tangga mereka. Kehadiran para ibu dengan senyum khasnya seolah menghidupkan kembali suasana greenhouse setelah masa panen berlalu. Bersama mahasiswa KKN, kami berkumpul mengelilingi wadah-wadah tanam yang masih menyimpan sisa-sisa akar tua dan tanah yang mengeras.

Tanpa perlu sekat atau instruksi yang kaku, kebersamaan itu mengalir begitu alami. Jemari para ibu KWT yang cekatan dan penuh ketelatenan mulai merapikan media tanam, menggemburkan kembali tanah yang kaku, serta memisahkan sisa tanaman lama agar siap menjadi tempat tumbuh yang baru. Di sela-sela riuhnya suara sekop dan jemari yang berpacu dengan tanah, gelak tawa renyah, gurauan hangat, serta cerita keseharian warga mengudara bebas. Momen sederhana ini bertransformasi menjadi ruang perjumpaan yang begitu hidup, tempat kami saling menyapa, merawat silaturahmi, dan menimba kearifan dari cara para ibu mencintai tanahnya.

Saat mentari sore mulai condong ke barat dan membiaskan warna keemasan di celah greenhouse, deretan media tanam kini telah kembali bersih, gembur, dan tertata rapi. Lebih dari sekadar menyiapkan tanah yang subur bagi benih-benih baru, kerja bersama di penghujung hari ini meninggalkan jejak kesan yang mendalam tentang indahnya kebersamaan, rasa saling menghargai, dan kehangatan gotong royong yang terus hidup di jantung desa.


Dokumentasi

 

 

 

Penutup

Seiring dengan berakhirnya rangkaian kegiatan pembersihan dan pemulihan media tanam pasca panen bersama ibu-ibu Kelompok Wanita Tani, kami menyadari bahwa apa yang tertinggal di desa ini jauh melampaui sekadar urusan teknis pertanian. Setiap genggam tanah yang digemburkan dan setiap wadah yang dirapikan sore itu menjadi saksi bisu atas jalinan kebersamaan, ketulusan, serta semangat gotong royong yang senantiasa hidup di tengah warga. Pengalaman berharga ini telah mengajarkan kami arti penting merawat bumi sekaligus merajut silaturahmi dengan hati yang tulus. Semoga ikhtiar kecil yang telah disemai bersama ini mampu bertumbuh menjadi sumber keberkahan, memperkuat ketahanan pangan keluarga, serta meninggalkan jejak kebaikan yang terus berlanjut bagi seluruh warga desa di masa-masa mendatang.

Penulis

Rizki Nurilhan

Rizki Nurilhan

S1-Ilmu Hukum